Kota Agung

Menapaki Jejak Soekarno di Kota Agung, Tanggamus

Kota Agung, ibu kota Kabupaten Tanggamus, memang bukan daerah pertempuran saat revolusi Kemerdekaan 1945 silam. Namun daerah ini tercatat sebagai salah satu situs paling bersejarah di Lampung. Di Kota Agung, pada tahun 1948, sang Proklamator Indonesia Ir. Soekarno meninggalkan jejak semangat kemerdekaan kepada rakyat.

Ngatinah, seorang veteran perempuan yang kini berusia 98 tahun, mengungkapkan bahwa Soekarno pernah berpidato di Kota Agung, tepatnya di Lapangan Merdeka yang kini menjadi taman kota. “Iya, dulu Soekarno pernah ke sini (Kota Agung). Ia berpidato di Lapangan Merdeka. Waktu itu dia berpidato tentang kemerdekaan,” kata Ngatinah.

Dia menuturkan, kunjungan Soekarno saat itu merupakan lawatan resmi presiden. Mereka datang bersama rombongan para menteri dan militer melalui jalur darat dari Tanjungkarang (Bandar Lampung). “Waktu itu banyak sekali yang datang, pokoknya ramai. Orang datang dari mana-mana. Apalagi orang Kota Agung, semuanya kumpul di lapangan,” terang warga Kelurahan Kuripan, Kecamatan Kota Agung ini.

ir Soekarno

Untuk mengenang kedatangan bersejarah Ir. Soekarno, sebuah tugu didirikan di sudut timur taman kota, letaknya tepat berada di belakang pos lalu lintas. Sayangnya, tugu yang semestinya menjadi monumen bersejarah itu hanya dibuat sederhana. Bahkan, dalam perayaan HUT ke-69 RI ini, tidak ada usaha mempercantik tugu. Pengecatan pun dilakukan ala kadarnya.

Ngatinah menuturkan, Soekarno cuma sebentar di Kota Agung, hanya berpidato. Setelah itu, rombongan makan bersama di Kantor Camat Kota Agung, kini menjadi rumah dinas Bupati Tanggamus.

Setelah semuanya selesai, rombongan kembali lagi ke Tanjungkarang. Saat itu, camat Kota Agung dijabat oleh Napitupulu dan Kepala Negeri dijabat Zubaidi. Kota Agung, kala itu merupakan kawedanan (wilayah administrasi pemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan) dari Provinsi Sumatera Selatan.

Jepang Membangun Bungker

Sementara itu, Yurizal Usman, anak seorang veteran bernama Usman Muhtaram atau Usman Mataram, menuturkan bahwa Soekarno sempat berencana menjadikan Kota Agung sebagai wilayah pelabuhan seperti Singapura (dulu Pulau Temasek).

Baca Juga:  Liburan Seru di Kampoeng Wisata Tabek Indah Lampung

“Dulu bapak saya pernah cerita, sewaktu Soekarno ke sini, Kota Agung ini akan dijadikan tempat pelabuhan seperti Singapura,” ujar Yurizal Usman.

Ia menuturkan, saat Jepang menguasai Indonesia tahun 1942-1945, Kota Agung memang sudah menjadi daerah pelabuhan. Bahkan, pembangunan di Kota Agung cenderung dilakukan oleh pemerintah Jepang. Era penjajahan Jepang, sudah dibangun sebuah pelabuhan yang dermaganya dilengkapi alat berat untuk bongkar muat kapal besar (skala ukuran zaman itu).

Soekarno

“Waktu zaman Jepang, Kota Agung jadi daerah perdagangan. Kapal-kapal besar sandar menurunkan barang macam-macam, termasuk menurunkan mobil-mobil,” terang warga Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung ini.

Karena posisi Kota Agung dianggap penting oleh Jepang, maka dibangunlah sarana pertahanan. Peninggalan yang masih bisa dijumpai saat ini adalah sebuah bungker yang letaknya di Pelabuhan Perhubungan Syahbandar Kota Agung.

Tapi, bungker peninggalan Jepang tersebut, kini cuma jadi bagian dari pagar kantor cabang PT Pertamina. Tidak ada upaya perawatan atau perhatian khusus untuk situs sejarah itu. Sisa peninggalan Jepang lain adalah sebuah lubang pertahanan berbentuk terowongan, tapi kini sudah terkubur di bawah halaman Masjid Jami Al Islah.

“Dulu bungker dan lubang pertahanan itu bapak saya yang memandori pembangunannya. Bapak saya jadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) dan dipercaya Jepang,” kata Yurizal.

Jepang membangun banyak bungker yang berada di sepanjang pantai Kota Agung ke arah timur, sampai di daerah Batu Balai, Kecamatan Kota Agung Timur. “Bungker itu dibangun sangat kuat, peluru apa pun tidak bisa tembus. Pembuatannya satu adukan semen dicampur dengan 4.000 putih telur. Itulah yang bikin kuat. Itu (adukan material) disuruh Jepang, sekaligus telurnya juga disediakan Jepang,” kata Yurizal.

Baca Juga:  Taman Batu Granit Tanjung Bintang, Wisata Seru di Lampung Selatan

Ngatinah menambahkan, lubang pertahanan lain, selain bungker-bungker di pesisir, berada di perbukitan, saat ini di Pekon Kagungan, Kota Agung Timur, sekitar Taman Makam Pahlawan Bahagia.

Di lokasi ini terdapat tiga lubang pertahanan. Dua masih bisa dilihat, meski separuh bangunannya terkubur, dan satu lagi benar-benar sudah terkubur. “Waktu itu yang membuat tenaganya orang kita semua (pribumi). Tidak dibayar,” ujarnya.

Meski Jepang sudah membuat sarana pertahanan di Kota Agung, namun peperangan tidak terjadi di sini. “Bapak saya tidak pernah cerita di sini ada perang,” ujar Yurizal.

Hal serupa juga diakui Ngatinah, perang baru terjadi di Branti, Lampung Selatan dan sekitaran Tanjungkarang. Itu pun setelah Indonesia merdeka, tepatnya saat Agresi Militer Belanda II. “Waktu itu pejuang dari sini banyak ke sana, termasuk saya ikut perang di sana,” kata Ngatinah.

Lantaran Kota Agung sebagai lokasi aman perang pada tahun 1945, itu memudahkan pejuang mengklaim kemerdekaan. Konon bendera Merah Putih sudah berkibar di Kotaagung pada 24 Agustus 1945. Saat itu, meski Soekarno-Hatta sudah memproklamirkan kemerdekaan, banyak daerah tidak berani mengibarkan bendera Merah Putih karena pengaruh Jepang masih kuat.

Kondisi aman di Kota Agung terus berlangsung hingga Agresi Militer Belanda II. Meskipun saat itu kapal perang Belanda bersandar di Pelabuhan Kota Agung dan menurunkan panser serta kendaraan perang.

“Dulu memang di laut (Teluk Semaka) banyak kapal perang bawa panser terus diturunkan. Tapi tidak ada perang besar di sini,” kata Ngatinah.

Karena kondisi aman perang itulah maka Kota Agung ditetapkan sebagai lokasi penyedia logistik berupa bahan makanan dan tempat singgah pejuang bagi bangsa ini. Bahan makanan dikirimkan ke Palembang, sebab di sana peperangan lebih besar, baik saat melawan Jepang atau saat Agresi Militer Belanda II.

Baca Juga:  Mengunjungi Pantai Embe Kalianda di Lampung

Ngatinah menjelaskan, suaminya bernama Wiryowiharjo berpangkat kopral, sering ditugasi membawa makanan, berupa nasi kering (nasi aking) ke Palembang. Supaya aman, Wiryowiharjo menyamar sebagai palang merah. Butuh waktu satu pekan perjalanan ke Palembang untuk pulang-pergi. “Cuma dia yang berani. Jadi disuruh terus sampai beberapa kali ke Palembang,” katanya.

Kota Agung juga dijadikan persinggahan pejuang Garuda Merah dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat, menuju Palembang. Perjalanan dari Bukit Tinggi memang tidak bisa langsung ke Palembang sebab belum ada jalan. “Dari Bukit Tinggi terus menginap di sini, baru ke Palembang. Perangnya di sana,” ujar Ngatinah.

Dari penjelasan Ngatinah dapat dipetakan peperangan di Sumatera bagian selatan meletus di dua lokasi. Pertama, di Palembang yang dilakukan oleh gabungan pejuang di Sumatera. Perang ini sudah terjadi era penjajahan Jepang.

Kedua, di Bandar Lampung yang dilakukan gabungan pejuang dari Lampung dan Pulau Jawa pada masa Agresi Militer Belanda II. Sebab, suami Ngatinah merupakan pejuang asal Solo yang dikirimkan untuk perang di Bandar Lampung.

Saat itu, kata Ngatinah, para pemuda dari berbagai suku bangsa mengangkat senjata. Termasuk dari etnis Tionghoa. “Dulu semuanya kumpul jadi satu. Suku apa pun, orang-orang Cina (Tionghoa) juga ikut perang,” ujar Yurizal.